SIKAP bersahabat dengan anak mempunyai peranan besar dalam mempengaruhi jiwanya. Perilaku seseorang akan menjadi cermin bagi sahabatnya.
Rasulullah saw. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Suatu saat beliau menemani Ibnu 'Abbas dan berjalan berdua. Di lain kesempatan beliau menemani anak-anak saudara sepupunya, Ja'far. Kadang-kadang ia menemani Anas. Begitulah Rasulullah saw. bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa kikuk lebih-lebih angkuh. Adalah merupakan hak anak untuk dapat menyertai orang-orang dewasa agar mereka bisa belajar dari orang dewasa itu hingga jiwanya terdidik dan kebiasaannya menjadi baik.
Dalam sebuah hadits, Anas Bin Malik menjelaskan bahwa Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw. sedangkan beliau tengah bermain bersama anak-anak. Lalu Jibril membawa beliau, membaringkan, dan membelah dadanya.
Seorang sahabat Rasulullah saw. yang masih anak-anak menceritakan bagaimana kaumnya meminta dirinya untuk menemani Rasulullah saw. Hal yang menyebabkan ia kelak meriwayatkan hadits-hadits Nabi saw. Ia menginformasikan apa yang dilihat dan didengarnya dari Rasulullah saw. Itulah Abu Juhaifah -semoga Allah meridhainya-. Dia mengatakan, " Saya datang bersama rombongan dari Bani 'Amir Bin Sha'sha'ah di Abthah. Rasulullah saw. mengatakan, " Selamat datang, kalian adalah bagian dariku. " Saat tiba waktu shalat, keluarlah Bilal lalu adzan dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya. Ia menengok (ke kanan dan ke kiri) saat adzan. Maka ketika (hendak) melakukan shalat Rasulullah saw menancapkan tongkat lalu shalat menghadapinya."
Rasulullah saw pernah melihat sekelompok anak-anak tengah bermain. Beliau tidak memisahkan mereka dan tidak pula menghentikan permainan mereka. Bahkan beliau mendukung semangat kebersamaan itu dan mengawasi permainan mereka.
Demikian pula para sahabat beliau -semoga Allah meridhai mereka. 'Umar biasa menemani puteranya dan menemani Ibnu 'Abbas. Zubair biasa menyertai anaknya ke medan perang untuk belajar seni berperang hingga tumbuh menjadi kuat dan tangguh. Adalah Rasulullah saw, di masa kecilnya, biasa bergaul dengan anak-anak dan bermain bersama mereka. Pagi dan petang selalu dengan mereka. Demikianlah beliau tumbuh.
Jadi, orang tua harus menyediakan waktu untuk menemani anak-anaknya. Anak-anak juga perlu dicarikan teman sebaya. Jika orang tua pandai memilihkan teman yang saleh untuk anak-anaknya dan mengawasi perilaku mereka serta membimbingnya, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.
Faktor keteladanan juga mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa anak. Sebab biasanya anak akan meniru kedua orang tuanya. Bahkan kedua orang tuanya akan mencetak perilaku paling kuat. "Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani," demikian kata Rasulullah saw. Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keberhasilan pendidikan.
Karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk menjadi teladan bagi manusia. "Sungguh telah ada, untuk kalian, pada diri Rasulullah teladan yang baik." Dan Allah menampilkan kepribadian Rasulullah saw. sebagai gambaran utuh sistem Islam, sebuah gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.
Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. la menjawab, "Akhlaknya adalah al-Quran." Rasulullah saw. adalah teladan agung untuk manusia sepanjang sejarahnya. Beliau adalah pendidik dan penuntun dengan segala perilakunya sebelum dengan kata-kata yang terucap. Itulah Rasulullah saw, yang menganjurkan para orangtua agar menjadi teladan yang baik tentang kejujuran dalam bergaul dengan anak-anak. Sebab kejujuran adalah jalan keberhasilan.
Imam Ahmad Bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-bahwa Nabi saw. bersabda:
"Barang siapa mengatakan kepada anaknya, 'Kemarilah aku beri sesuatu', tapi tidak memberinya maka itu merupakan kebohongan."
Abu Daud mengeluarkan hadits dari Abdullah Bin 'Amir, ia berkata, "Suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah saw. tengah duduk di rumah kami. Ibuku mengatakan, 'Kemarilah aku akan memberi kamu sesuatu.' Rasulullah saw. bertanya kepadanya, 'Apa yang mau kau berikan kepadanya?' Ibuku menjawab, "Aku akan beri dia kurma.' Rasulullah saw. berkata kepadanya, 'Demi Allah jika engkau tidak memberi sesuatu padanya maka akan dicatat bahwa engkau berdusta'."
Bukankah tuntunan Nabi saw. itu menunjukkan upaya keras beliau agar pendidik mempraktikkan kejujuran di hadapan orang yang dididiknya untuk memberi keteladanan kepadanya.
Abdullah Bin 'Amr -semoga Allah meridhai mereka- mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda,
"Berangkatlah tiga orang -dari umat terdahulu- hingga tiba malam yang memaksa mereka berlindung di sebuah goa. Lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung menutup pintu goa tersebut. Mereka berkata, 'Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali doa kalian dengan (perantaraan) amal saleh kalian. Salah seorang di antara mereka mengatakan, 'Ya Allah, aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua renta. Dan aku tidak pernah berani mendahului mereka minum di sore hari, tidak pula keluargaku. Pada suatu hari aku harus pergi jauh untuk mencari kayu bakar hingga aku pulang menemui mereka dalam keadaan sudah tertidur. Aku tidak ingin membangunkan mereka sementara aku tidak mau mendahulukan keluargaku (untuk minum). Maka aku menunggu mereka bangun, sedangkan cangkir tetap di tanganku, hingga terbit fajar. Sedangkan anak-anakku, saat aku datang, menggeliat-geliat karena lapar. Lalu kedua orangtua saya bangun dan meminum minumannya itu. Ya Allah, jika aku lakukan itu karena mencari ridha-Mu maka berilah aku jalan keluar dari himpitan batu ini. Maka bergesarlah batu itu sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya..." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Hal itu menunjukkan betapa Rasulullah saw. ingin agar para pendidik berbuat baik kepada orang tuanya agar menjadi teladan bagi orang yang sedang dididik. Apa makna anak-anak yang dibiarkan menggeliat-geliat kelaparan padahal cangkir minuman itu ada di tangannya? Bukankah itu menunjukkan bahwa ayah adalah teladan bagi anak-anaknya dalam hal berbuat baik kepada kedua orang tuanya?
Sahl Bin Sa'ad As-Sa'idi meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. diberi minuman lalu beliau meminumnya sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki-laki dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang sudah tua. Rasulullah saw bertanya kepada anak itu, "Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi mereka (yang tua-tua) terlebih dahulu?" Si anak itu menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapa pun." Bukankah tuntunan Nabi saw itu menunjukkan bahwa beliau memberikan teladan dalam bersikap lemah-lembut kepada anak-anak kecil dan berpegang teguh dengan manhaj Islam dalam tata cara minum, hingga generasi Islam mengikuti jejak langkahnya? Demikianlah Rasulullah saw. mengajari orang yang mengemban amanah pendidikan agar menjadi teladan dalam segala hal. Supaya anak-anak terpengaruh dengan perilaku mereka yang terpuji, dengan nasehat yang membekas, dengan peringatan yang membimbing, dan dengan pendidikan yang bijaksana dan integral.
Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati. Jika mereka mendapatkan kedua orang tuanya jujur, maka mereka akan tumbuh menjadi orang jujur. Demikian pula dalam hal lainnya. Anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya sebagai sosok ideal. Jadi, ayah dan ibu di rumah atau guru di sekolah, dengan segala perilakunya akan menjadi contoh yang akan ia tiru. Di sinilah arti penting larangan menampakkan sikap kontradikitif di depan anak-anak. Tidak boleh sama sekali, misalnya, mengatakan kepada anak-anak bahwa dusta itu salah dan haram sementara kita berdusta di hadapannya. Atau bahwa kita tidak boleh kotor tapi kemudian mereka melihat kita makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Inilah si kecil Ibnu 'Abbas -semoga Allah meridhainya- ketika ia melihat orang yang melakukan shalat malam ia segera melakukannya dan bergabung dengan Rasulullah saw. Ia menceritakan,
"Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah, pada suatu malam. Maka nabi saw. berdiri (untuk shalat malam). Beliau berwudhu dari ember yang tergantung dengan (cara) wudhu yang ringan. Kemudian berdiri shalat, dan aku pun bangun untuk wudhu seperti wudhu beliau kemudian aku kembali (dari berwudhu) dan berdiri di samping kiri Rasulullah saw. Maka beliau memindahkanku ke sebelah kanannya kemudian ia shalat..." (Riwayat Bukhari)
Jadi ia berwudhu mengikuti Rasulullah saw. kemudian berdiri untuk shalat. Demikianlah peran keteladanan pada jiwa anak. Karenanya orangtua dituntut untuk menjadi teladan yang baik karena memang anak akan mengamati perilaku mereka dan perkataan mereka. Anak biasanya bertanya-tanya tentang alasan orang tua melakukan sesuatu. Jika yang dilakukan itu baik maka anak pun akan baik. Dan inilah si kecil Abdullah Bin Abi Bakrah yang senantiasa mengamati doa-doa yang dilantunkan ayahnya, lalu ia bertanya tentang doa-doa itu dan ayahnya menjawabnya.
Abdullah Bin Abi Bakrah mengatakan,
"Saya bertanya kepada ayah saya, 'Ayah, aku dengar engkau setiap pagi mengucapkan: 'Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah pandanganku. Dan tidak ada tuhan selain Engkau'. Engkau mengulang-ulangnya tiga kali jika datang waktu pagi dan tiga kali jika datang waktu sore.' Ia menjawab, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw berdoa dengan doa itu. Jadi aku ingin mengikuti sunnahnya'." (Riwayat AbuDaud)
Kedua orangtua dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah swt. dan Sunnah Rasul-Nya dalam bentuk amal nyata dan perilaku serta senantiasa meningkatkan hal itu secara optimal. Sebab anak-anak senantiasa mengamati mereka pagi dan petang dan dalam setiap kesempatan. Kemampuan untuk meniru pada anak-anak, baik karena paham ataupun tidak paham, amat besar melebihi dugaan kita. Sedangkan kita memandangnya sebagai makhluk kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Karenanya, keteladanan dalam pendidikan adalah merupakan salah satu sarana paling efektif dan berpengaruh dalam mempersiapkan anak dari sisi akhlak dan membentuknya secara psikologis dan sosial. Karena pendidik adalah prototipe dalam pandangan anak, seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini. Dan teladan yang baik dalam pandangan anak pasti akan diikutinya dengan perilaku dan akhlak, baik disadari ataupun tidak. Bahkan akan terpateri dalam jiwa dan perasaannya bayangan ucapan, perbuatan, perasaan, dan mental orangtua, disadari atau tidak.
Jadi keteladanan merupakan faktor penting dalam membentuk kesalehan atau kenakalan anak. Jika pendidik jujur, amanah, berakhlak baik, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri, maka si anak akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri. Dan jika pendidik berdusta, khianat, kikir, pengecut, maka si anak pun akan tumbuh dengan dusta, khianat, penakut, dan kikir.
Karenanya orang-orang terdahulu begitu serius dalam memilih pendidik terbaik untuk anak mereka.
'Umar Bin Utbah menulis surat kepada pendidik anaknya. Isinya, "Hendaklah yang pertama kau lakukan dalam mensalehkan anakmu adalah mensalehkan dirimu sendiri. Sebab pandangan mereka sangat ditentukan oleh pandanganmu. Yang disebut baik oleh mereka adalah apa yang kaulakukan dan yang disebut buruk oleh mereka adalah apa yang kau tinggalkan."
Pembaca budiman, saya ingin menceritakan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh Ustadz Mahmud Mahir Zaidan dalam bukunya, Als-Tsawab Wal-'Iqob Fit-Tarbiyah (Imbalan dan hukuman dalam Pendidikan), halaman 17. Silakan Anda menyimpulkan sendiri seberapa besar peranan keteladanan.
la menulis:
"Suatu kali saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah pesta sederhana, di ruang kelas V SD. Dalam acara itu, anak-anak meminta salah seorang teman mereka untuk menirukan perilaku guru-guru sekolah. Lalu si anak bangkit sambil mengatakan bahwa ia akan menirukan guru pelajaran Bahasa Inggris. Ia lalu keluar dari kelas dan menutup pintunya. Sejenak ia menghilang. Dan tiba-tiba ia masuk, bagaikan angin topan, dengan menendang pintu sekeras-kerasnya. Dengan mata tajam yang menyorot ke "murid-muridnya" dan dengan wajah garang ia mengatakan, 'Good morning dogs!
Sebelum para hadirin mengakhiri keterhenyakannya oleh demonstrasi itu, anak itu mengatakan bahwa ia akan menirukan guru matematika. Ia kemudian melontarkan pertanyaan kepada salah seorang temannya yang kemudian menjawab dengan ragu-ragu. Kemudian pertanyaan yang sama ditujukan kepada temannya yang lain dan menjawabnya dengan benar. Maka "si guru" itu menyuruh murid yang jawabannya benar untuk menampar temannya yang jawabannya tidak tepat itu. Keterhenyakan pun semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba saja salah seorang guru mengajak kami menyantap makanan dan minuman yang tersedia di hadapan kami. Dan saya pun mengerti bahwa ia ingin mencegah kami agar tidak menikmati lebih jauh tentang apa yang terjadi di hadapanku."
Ustadz Mahmud melanjutkan, "Saya keluar mengayunkan langkah dengan hati pedih. Dalam benak saya berkecamuk puluhan tanda tanya dan kegalauan. Begitukah hubungan antara guru dengan murid? Perilaku dan nilai macam apa yang harus kita tanamkan dalam jiwa-jiwa yang tengah meniti awal perjalanan dalam kehidupan itu?"
Jadi, sekali saja contoh yang buruk, sudah cukup. Sekali saja murid mendengar gurunya mengucapkan kata-kata kotor dan menghina, itu sudah cukup. Sekali saja anak mendengar ibunya berdusta kepada ayahnya atau sebaliknya, atau salah satunya berdusta kepada tetangganya, sekali saja, cukup untuk menumbangkan nilai kejujuran dalam jiwanya.
Sekali saja mendengar ayahnya memerintah dirinya untuk menjawab telepon dengan mengatakan bahwa ia tidak ada padahal ada; atau ibunya meminta saudara perempuannya untuk mengatakan hal serupa, maka ia tidak mungkin lagi belajar tentang kejujuran. Sekali saja ia melihat ibunya mengelabui ayah atau saudaranya atau mengelabui dirinya, maka tidak mungkin ia belajar amanah. Sekali saja ia melihat ibunya berperilaku rendah maka ia tidak akan dapat belajar akhlak mulia. Sekali saja ayahnya bersikap kasar kepadanya, ia tidak akan bisa belajar kasih sayang dan kerja sama.
Anak, betapapun berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapapun fitrahnya lurus dan suci, namun dia tidak akan merespon prinsip-prinsip kebaikan dan dasar-dasar pendidikan yang baik selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. Adalah mudah bagi pendidik mengarang buku atau mendiktekan metoda pendidikan. Akan tetapi amatlah sulit bagi sang anak untuk menerima manhaj (sistem) pendidikan mana pun jika ia melihat orang yang menjadi pembimbingnya tidak mempraktikkan apa yang diajarakan oleh metodologi itu.
Untuk itu, saya ingin mengingatkan kita semua agar tidak terjadi kontradiksi antara ucapan dengan perbuatan kita. Jika kita cermati al-Quran, kita akan temukan bahwa al-Quran menolak keras perilaku orang-orang yang perbuatannya berlainan dengan ucapannya termasuk di dalamnya adalah para bapak, para ibu, semua pendidik, dan semua orang yang mengemban amanah pendidikan. Firman Allah swt.:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh amat besar dosa di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. " (Ash-Shaf 2-3)
Firman-Nya pula:
"Adakah kamu memerintah manusia untuk melakukan kebaikan dan kalian lupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca kitab. Tidakkah kalian berfikir?" (Al-Baqarah 44)
Adakah Anda menemukan dalam al-Qur'an larangan yang lebih hebat dari larangan terhadap orang-orang yang memberikan teladan yang buruk? Sungguh agung sikap 'Umar Bin Khattab -semoga Allah meridhainya- saat mengumpulkan keluarganya seraya mengatakan kepada mereka, "Amma Ba'du. Sesungguhnya aku akan menyeru orang untuk melakukan itu dan ini. Aku akan mencegah mereka dari perbuatan itu dan ini. Dan aku bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Agung, aku tidak ingin mendapatkan seorang pun dari kalian yang melakukan apa yang aku cegah itu atau tidak mengerjakan apa yang aku perintahkan kepada orang-orang itu. Jika tidak, aku akan hukum kalian dengan hukuman yang berat."
Lalu keluarlah 'Umar untuk menyeru manusia kepada kebaikan. Maka tidak seorang pun dari mereka ragu-ragu untuk mendengar dan menaatinya. Sebab ia telah memberi mereka contoh dengan perbuatan sebelum dengan kata-kata.
Seorang penyair melukiskan kepedihan hatinya melihat guru dan pendidik yang perbuatannya menyalahi kata-katanya:
" Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu dan cegahlah dari senyimpangan
Jika itu kau lakukan maka engkau orang yang bijak
Kala itulah nasihatmu akan diterima
Ilmumu akan diikuti dan pengajaranmu berguna."
Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In’ikasi Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa ’Aqlihi) Oleh Muhammad Rasyid Dimas
Rasulullah saw. biasa menemani anak-anak dalam banyak kesempatan. Suatu saat beliau menemani Ibnu 'Abbas dan berjalan berdua. Di lain kesempatan beliau menemani anak-anak saudara sepupunya, Ja'far. Kadang-kadang ia menemani Anas. Begitulah Rasulullah saw. bersahabat dengan anak-anak tanpa ada rasa kikuk lebih-lebih angkuh. Adalah merupakan hak anak untuk dapat menyertai orang-orang dewasa agar mereka bisa belajar dari orang dewasa itu hingga jiwanya terdidik dan kebiasaannya menjadi baik.
Dalam sebuah hadits, Anas Bin Malik menjelaskan bahwa Jibril pernah datang kepada Rasulullah saw. sedangkan beliau tengah bermain bersama anak-anak. Lalu Jibril membawa beliau, membaringkan, dan membelah dadanya.
Seorang sahabat Rasulullah saw. yang masih anak-anak menceritakan bagaimana kaumnya meminta dirinya untuk menemani Rasulullah saw. Hal yang menyebabkan ia kelak meriwayatkan hadits-hadits Nabi saw. Ia menginformasikan apa yang dilihat dan didengarnya dari Rasulullah saw. Itulah Abu Juhaifah -semoga Allah meridhainya-. Dia mengatakan, " Saya datang bersama rombongan dari Bani 'Amir Bin Sha'sha'ah di Abthah. Rasulullah saw. mengatakan, " Selamat datang, kalian adalah bagian dariku. " Saat tiba waktu shalat, keluarlah Bilal lalu adzan dan memasukkan kedua telunjuknya pada kedua telinganya. Ia menengok (ke kanan dan ke kiri) saat adzan. Maka ketika (hendak) melakukan shalat Rasulullah saw menancapkan tongkat lalu shalat menghadapinya."
Rasulullah saw pernah melihat sekelompok anak-anak tengah bermain. Beliau tidak memisahkan mereka dan tidak pula menghentikan permainan mereka. Bahkan beliau mendukung semangat kebersamaan itu dan mengawasi permainan mereka.
Demikian pula para sahabat beliau -semoga Allah meridhai mereka. 'Umar biasa menemani puteranya dan menemani Ibnu 'Abbas. Zubair biasa menyertai anaknya ke medan perang untuk belajar seni berperang hingga tumbuh menjadi kuat dan tangguh. Adalah Rasulullah saw, di masa kecilnya, biasa bergaul dengan anak-anak dan bermain bersama mereka. Pagi dan petang selalu dengan mereka. Demikianlah beliau tumbuh.
Jadi, orang tua harus menyediakan waktu untuk menemani anak-anaknya. Anak-anak juga perlu dicarikan teman sebaya. Jika orang tua pandai memilihkan teman yang saleh untuk anak-anaknya dan mengawasi perilaku mereka serta membimbingnya, maka hal itu akan mendatangkan kebaikan bagi dirinya.
Faktor keteladanan juga mempunyai pengaruh besar terhadap jiwa anak. Sebab biasanya anak akan meniru kedua orang tuanya. Bahkan kedua orang tuanya akan mencetak perilaku paling kuat. "Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi atau Nasrani," demikian kata Rasulullah saw. Keteladanan adalah sarana paling efektif untuk menuju keberhasilan pendidikan.
Karena itu, Allah mengutus Nabi Muhammad Saw. untuk menjadi teladan bagi manusia. "Sungguh telah ada, untuk kalian, pada diri Rasulullah teladan yang baik." Dan Allah menampilkan kepribadian Rasulullah saw. sebagai gambaran utuh sistem Islam, sebuah gambaran yang hidup dan abadi sepanjang sejarah.
Aisyah pernah ditanya tentang akhlak Rasulullah saw. la menjawab, "Akhlaknya adalah al-Quran." Rasulullah saw. adalah teladan agung untuk manusia sepanjang sejarahnya. Beliau adalah pendidik dan penuntun dengan segala perilakunya sebelum dengan kata-kata yang terucap. Itulah Rasulullah saw, yang menganjurkan para orangtua agar menjadi teladan yang baik tentang kejujuran dalam bergaul dengan anak-anak. Sebab kejujuran adalah jalan keberhasilan.
Imam Ahmad Bin Hanbal meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah -semoga Allah meridhainya-bahwa Nabi saw. bersabda:
"Barang siapa mengatakan kepada anaknya, 'Kemarilah aku beri sesuatu', tapi tidak memberinya maka itu merupakan kebohongan."
Abu Daud mengeluarkan hadits dari Abdullah Bin 'Amir, ia berkata, "Suatu hari ibuku memanggilku, sedangkan Rasulullah saw. tengah duduk di rumah kami. Ibuku mengatakan, 'Kemarilah aku akan memberi kamu sesuatu.' Rasulullah saw. bertanya kepadanya, 'Apa yang mau kau berikan kepadanya?' Ibuku menjawab, "Aku akan beri dia kurma.' Rasulullah saw. berkata kepadanya, 'Demi Allah jika engkau tidak memberi sesuatu padanya maka akan dicatat bahwa engkau berdusta'."
Bukankah tuntunan Nabi saw. itu menunjukkan upaya keras beliau agar pendidik mempraktikkan kejujuran di hadapan orang yang dididiknya untuk memberi keteladanan kepadanya.
Abdullah Bin 'Amr -semoga Allah meridhai mereka- mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda,
"Berangkatlah tiga orang -dari umat terdahulu- hingga tiba malam yang memaksa mereka berlindung di sebuah goa. Lalu mereka memasukinya. Tiba-tiba sebuah batu besar jatuh dari gunung menutup pintu goa tersebut. Mereka berkata, 'Tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian dari batu ini kecuali doa kalian dengan (perantaraan) amal saleh kalian. Salah seorang di antara mereka mengatakan, 'Ya Allah, aku mempunyai ibu bapak yang sudah tua renta. Dan aku tidak pernah berani mendahului mereka minum di sore hari, tidak pula keluargaku. Pada suatu hari aku harus pergi jauh untuk mencari kayu bakar hingga aku pulang menemui mereka dalam keadaan sudah tertidur. Aku tidak ingin membangunkan mereka sementara aku tidak mau mendahulukan keluargaku (untuk minum). Maka aku menunggu mereka bangun, sedangkan cangkir tetap di tanganku, hingga terbit fajar. Sedangkan anak-anakku, saat aku datang, menggeliat-geliat karena lapar. Lalu kedua orangtua saya bangun dan meminum minumannya itu. Ya Allah, jika aku lakukan itu karena mencari ridha-Mu maka berilah aku jalan keluar dari himpitan batu ini. Maka bergesarlah batu itu sedikit, namun mereka belum dapat keluar darinya..." (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)
Hal itu menunjukkan betapa Rasulullah saw. ingin agar para pendidik berbuat baik kepada orang tuanya agar menjadi teladan bagi orang yang sedang dididik. Apa makna anak-anak yang dibiarkan menggeliat-geliat kelaparan padahal cangkir minuman itu ada di tangannya? Bukankah itu menunjukkan bahwa ayah adalah teladan bagi anak-anaknya dalam hal berbuat baik kepada kedua orang tuanya?
Sahl Bin Sa'ad As-Sa'idi meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw. diberi minuman lalu beliau meminumnya sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang anak laki-laki dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang sudah tua. Rasulullah saw bertanya kepada anak itu, "Apakah kamu mengizinkan aku untuk memberi mereka (yang tua-tua) terlebih dahulu?" Si anak itu menjawab, "Tidak, demi Allah, aku tidak akan memberikan hakku darimu kepada siapa pun." Bukankah tuntunan Nabi saw itu menunjukkan bahwa beliau memberikan teladan dalam bersikap lemah-lembut kepada anak-anak kecil dan berpegang teguh dengan manhaj Islam dalam tata cara minum, hingga generasi Islam mengikuti jejak langkahnya? Demikianlah Rasulullah saw. mengajari orang yang mengemban amanah pendidikan agar menjadi teladan dalam segala hal. Supaya anak-anak terpengaruh dengan perilaku mereka yang terpuji, dengan nasehat yang membekas, dengan peringatan yang membimbing, dan dengan pendidikan yang bijaksana dan integral.
Anak-anak akan meniru perilaku orang dewasa yang mereka amati. Jika mereka mendapatkan kedua orang tuanya jujur, maka mereka akan tumbuh menjadi orang jujur. Demikian pula dalam hal lainnya. Anak-anak melihat orang dewasa di sekitarnya sebagai sosok ideal. Jadi, ayah dan ibu di rumah atau guru di sekolah, dengan segala perilakunya akan menjadi contoh yang akan ia tiru. Di sinilah arti penting larangan menampakkan sikap kontradikitif di depan anak-anak. Tidak boleh sama sekali, misalnya, mengatakan kepada anak-anak bahwa dusta itu salah dan haram sementara kita berdusta di hadapannya. Atau bahwa kita tidak boleh kotor tapi kemudian mereka melihat kita makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu.
Inilah si kecil Ibnu 'Abbas -semoga Allah meridhainya- ketika ia melihat orang yang melakukan shalat malam ia segera melakukannya dan bergabung dengan Rasulullah saw. Ia menceritakan,
"Aku menginap di rumah bibiku, Maimunah, pada suatu malam. Maka nabi saw. berdiri (untuk shalat malam). Beliau berwudhu dari ember yang tergantung dengan (cara) wudhu yang ringan. Kemudian berdiri shalat, dan aku pun bangun untuk wudhu seperti wudhu beliau kemudian aku kembali (dari berwudhu) dan berdiri di samping kiri Rasulullah saw. Maka beliau memindahkanku ke sebelah kanannya kemudian ia shalat..." (Riwayat Bukhari)
Jadi ia berwudhu mengikuti Rasulullah saw. kemudian berdiri untuk shalat. Demikianlah peran keteladanan pada jiwa anak. Karenanya orangtua dituntut untuk menjadi teladan yang baik karena memang anak akan mengamati perilaku mereka dan perkataan mereka. Anak biasanya bertanya-tanya tentang alasan orang tua melakukan sesuatu. Jika yang dilakukan itu baik maka anak pun akan baik. Dan inilah si kecil Abdullah Bin Abi Bakrah yang senantiasa mengamati doa-doa yang dilantunkan ayahnya, lalu ia bertanya tentang doa-doa itu dan ayahnya menjawabnya.
Abdullah Bin Abi Bakrah mengatakan,
"Saya bertanya kepada ayah saya, 'Ayah, aku dengar engkau setiap pagi mengucapkan: 'Ya Allah, sehatkanlah pendengaranku. Ya Allah, sehatkanlah pandanganku. Dan tidak ada tuhan selain Engkau'. Engkau mengulang-ulangnya tiga kali jika datang waktu pagi dan tiga kali jika datang waktu sore.' Ia menjawab, 'Wahai anakku, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw berdoa dengan doa itu. Jadi aku ingin mengikuti sunnahnya'." (Riwayat AbuDaud)
Kedua orangtua dituntut melaksanakan perintah-perintah Allah swt. dan Sunnah Rasul-Nya dalam bentuk amal nyata dan perilaku serta senantiasa meningkatkan hal itu secara optimal. Sebab anak-anak senantiasa mengamati mereka pagi dan petang dan dalam setiap kesempatan. Kemampuan untuk meniru pada anak-anak, baik karena paham ataupun tidak paham, amat besar melebihi dugaan kita. Sedangkan kita memandangnya sebagai makhluk kecil yang tidak mengerti apa-apa.
Karenanya, keteladanan dalam pendidikan adalah merupakan salah satu sarana paling efektif dan berpengaruh dalam mempersiapkan anak dari sisi akhlak dan membentuknya secara psikologis dan sosial. Karena pendidik adalah prototipe dalam pandangan anak, seperti yang telah kita sebutkan sebelum ini. Dan teladan yang baik dalam pandangan anak pasti akan diikutinya dengan perilaku dan akhlak, baik disadari ataupun tidak. Bahkan akan terpateri dalam jiwa dan perasaannya bayangan ucapan, perbuatan, perasaan, dan mental orangtua, disadari atau tidak.
Jadi keteladanan merupakan faktor penting dalam membentuk kesalehan atau kenakalan anak. Jika pendidik jujur, amanah, berakhlak baik, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri, maka si anak akan tumbuh menjadi orang yang jujur, amanah, berakhlak mulia, pemurah, pemberani, dan menjaga kesucian diri. Dan jika pendidik berdusta, khianat, kikir, pengecut, maka si anak pun akan tumbuh dengan dusta, khianat, penakut, dan kikir.
Karenanya orang-orang terdahulu begitu serius dalam memilih pendidik terbaik untuk anak mereka.
'Umar Bin Utbah menulis surat kepada pendidik anaknya. Isinya, "Hendaklah yang pertama kau lakukan dalam mensalehkan anakmu adalah mensalehkan dirimu sendiri. Sebab pandangan mereka sangat ditentukan oleh pandanganmu. Yang disebut baik oleh mereka adalah apa yang kaulakukan dan yang disebut buruk oleh mereka adalah apa yang kau tinggalkan."
Pembaca budiman, saya ingin menceritakan sebuah peristiwa yang disampaikan oleh Ustadz Mahmud Mahir Zaidan dalam bukunya, Als-Tsawab Wal-'Iqob Fit-Tarbiyah (Imbalan dan hukuman dalam Pendidikan), halaman 17. Silakan Anda menyimpulkan sendiri seberapa besar peranan keteladanan.
la menulis:
"Suatu kali saya pernah diundang untuk menghadiri sebuah pesta sederhana, di ruang kelas V SD. Dalam acara itu, anak-anak meminta salah seorang teman mereka untuk menirukan perilaku guru-guru sekolah. Lalu si anak bangkit sambil mengatakan bahwa ia akan menirukan guru pelajaran Bahasa Inggris. Ia lalu keluar dari kelas dan menutup pintunya. Sejenak ia menghilang. Dan tiba-tiba ia masuk, bagaikan angin topan, dengan menendang pintu sekeras-kerasnya. Dengan mata tajam yang menyorot ke "murid-muridnya" dan dengan wajah garang ia mengatakan, 'Good morning dogs!
Sebelum para hadirin mengakhiri keterhenyakannya oleh demonstrasi itu, anak itu mengatakan bahwa ia akan menirukan guru matematika. Ia kemudian melontarkan pertanyaan kepada salah seorang temannya yang kemudian menjawab dengan ragu-ragu. Kemudian pertanyaan yang sama ditujukan kepada temannya yang lain dan menjawabnya dengan benar. Maka "si guru" itu menyuruh murid yang jawabannya benar untuk menampar temannya yang jawabannya tidak tepat itu. Keterhenyakan pun semakin menjadi-jadi.
Tiba-tiba saja salah seorang guru mengajak kami menyantap makanan dan minuman yang tersedia di hadapan kami. Dan saya pun mengerti bahwa ia ingin mencegah kami agar tidak menikmati lebih jauh tentang apa yang terjadi di hadapanku."
Ustadz Mahmud melanjutkan, "Saya keluar mengayunkan langkah dengan hati pedih. Dalam benak saya berkecamuk puluhan tanda tanya dan kegalauan. Begitukah hubungan antara guru dengan murid? Perilaku dan nilai macam apa yang harus kita tanamkan dalam jiwa-jiwa yang tengah meniti awal perjalanan dalam kehidupan itu?"
Jadi, sekali saja contoh yang buruk, sudah cukup. Sekali saja murid mendengar gurunya mengucapkan kata-kata kotor dan menghina, itu sudah cukup. Sekali saja anak mendengar ibunya berdusta kepada ayahnya atau sebaliknya, atau salah satunya berdusta kepada tetangganya, sekali saja, cukup untuk menumbangkan nilai kejujuran dalam jiwanya.
Sekali saja mendengar ayahnya memerintah dirinya untuk menjawab telepon dengan mengatakan bahwa ia tidak ada padahal ada; atau ibunya meminta saudara perempuannya untuk mengatakan hal serupa, maka ia tidak mungkin lagi belajar tentang kejujuran. Sekali saja ia melihat ibunya mengelabui ayah atau saudaranya atau mengelabui dirinya, maka tidak mungkin ia belajar amanah. Sekali saja ia melihat ibunya berperilaku rendah maka ia tidak akan dapat belajar akhlak mulia. Sekali saja ayahnya bersikap kasar kepadanya, ia tidak akan bisa belajar kasih sayang dan kerja sama.
Anak, betapapun berpotensi besar untuk menerima kebaikan dan betapapun fitrahnya lurus dan suci, namun dia tidak akan merespon prinsip-prinsip kebaikan dan dasar-dasar pendidikan yang baik selama ia tidak melihat pendidiknya berakhlak mulia dan menjadi sosok ideal. Adalah mudah bagi pendidik mengarang buku atau mendiktekan metoda pendidikan. Akan tetapi amatlah sulit bagi sang anak untuk menerima manhaj (sistem) pendidikan mana pun jika ia melihat orang yang menjadi pembimbingnya tidak mempraktikkan apa yang diajarakan oleh metodologi itu.
Untuk itu, saya ingin mengingatkan kita semua agar tidak terjadi kontradiksi antara ucapan dengan perbuatan kita. Jika kita cermati al-Quran, kita akan temukan bahwa al-Quran menolak keras perilaku orang-orang yang perbuatannya berlainan dengan ucapannya termasuk di dalamnya adalah para bapak, para ibu, semua pendidik, dan semua orang yang mengemban amanah pendidikan. Firman Allah swt.:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh amat besar dosa di sisi Allah jika kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. " (Ash-Shaf 2-3)
Firman-Nya pula:
"Adakah kamu memerintah manusia untuk melakukan kebaikan dan kalian lupakan diri kalian sendiri padahal kalian membaca kitab. Tidakkah kalian berfikir?" (Al-Baqarah 44)
Adakah Anda menemukan dalam al-Qur'an larangan yang lebih hebat dari larangan terhadap orang-orang yang memberikan teladan yang buruk? Sungguh agung sikap 'Umar Bin Khattab -semoga Allah meridhainya- saat mengumpulkan keluarganya seraya mengatakan kepada mereka, "Amma Ba'du. Sesungguhnya aku akan menyeru orang untuk melakukan itu dan ini. Aku akan mencegah mereka dari perbuatan itu dan ini. Dan aku bersumpah dengan nama Allah Yang Maha Agung, aku tidak ingin mendapatkan seorang pun dari kalian yang melakukan apa yang aku cegah itu atau tidak mengerjakan apa yang aku perintahkan kepada orang-orang itu. Jika tidak, aku akan hukum kalian dengan hukuman yang berat."
Lalu keluarlah 'Umar untuk menyeru manusia kepada kebaikan. Maka tidak seorang pun dari mereka ragu-ragu untuk mendengar dan menaatinya. Sebab ia telah memberi mereka contoh dengan perbuatan sebelum dengan kata-kata.
Seorang penyair melukiskan kepedihan hatinya melihat guru dan pendidik yang perbuatannya menyalahi kata-katanya:
" Wahai engkau yang mengajari orang lain
Tidakkah pelajaran itu juga berlaku untukmu
Engkau memberikan obat kepada orang sakit
Agar ia sembuh padahal dirimu juga sakit
Kami lihat engkau meluruskan akal kami dengan petunjuk
Padahal engkau sendiri mandul petunjuk
Mulailah dengan dirimu dan cegahlah dari senyimpangan
Jika itu kau lakukan maka engkau orang yang bijak
Kala itulah nasihatmu akan diterima
Ilmumu akan diikuti dan pengajaranmu berguna."
Sumber : 25 Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak (Al Inshat Al In’ikasi Khamsun Wa Isyruna Thariqah Fi Nafsi Ath Thifli Wa ’Aqlihi) Oleh Muhammad Rasyid Dimas
One Response to "Kiat Mempengaruhi Akal dan Jiwa Anak"